Fenomena Politik Jokowi

Baru-baru ini dalam sebuah pemilihan kepala daerah untuk memilih Gubernur di provinsi DKI Jakarta periode 2012 - 2017, terjadi peristiwa yang cukup fenomenal dan tidak terduga sama sekali, dimana pasangan Petahana (incumbent) yang begitu superior-nya (dalam jumlah partai dukungan) dikalahkan oleh pasangan yang minim dalam jumlah partai pendukungnya. Peristiwa ini terjadi dalam pertarungan pilkada dua putaran.
Banyak pengamat, lembaga survei dan lembaga konsultan politik yang terpeleset memprediksi siapa yang bakal menang dalam pilkada DKI Jakarta kali ini. Tentu dengan banyaknya pengalaman lembaga-lembaga tersebut, rasa-rasanya analisa dan prediksi mereka bakal sulit terbantahkan jika yang akan memenangkan pilkada nantinya adalah pasangan petahana yaitu Fauzi "Foke" Bowo dan Nachrowi "Nara" Ramly. Akan tetapi apa yang terjadi? kita semua pastinya sudah mengetahui hasil akhirnya, yaitu pasangan Joko "Jokowi" Widodo dan Basuki "Ahok" Tjahaya Purnama yang akhirnya memenangkan duel yang memerlukan dua putaran dalam kegiatan Pilkada Gubernur DKI Jakarta.
Secara hitungan matematis dan logika politik dalam hal jumlah dukungan Parpol kepada pasangan Foke - Nara, sangatlah sulit dibayangkan pasangan tersebut akan kalah. Jika berkaca terhadap hasil pemilu legislatif tahun 2009 lalu, dimana partai Demokrat dan PKS mendominasi perolehan suara di DKI Jakarta. Seharusnya pasangan ini akan dengan mudah memenangkan pilkada. Akan tetapi dalam dunia politik yang sangat dinamis ini, semua hal bisa terjadi. Dengan hanya didukung oleh dua partai, yaitu PDIP dan partai Gerindra pasangan ini mampu  mengungguli perolehan suara sang Petahana.
Mungkin banyak yang mengatakan bahwa kemenangan Jokowi - Ahok adalah kemenangan kaum pinggiran, rakyat kecil ataupun kaum minoritas. Tapi perlu kita cermati peran dari aktor dibelakang layar yaitu konsultan politik yang ada dibelakang tim sukses Jokowi - Ahok. Dari mulai pencitraan yang sederhana dan tidak memakan banyak biaya seperti baju kotak-kotak yang akhirnya menjadi trend setter kawula muda Jakarta sampai dengan senyuman  atau guyonan khas Jokowi yang terasa sangat bersahabat dan familiar. Itu tentunya merupakan suatu Character Image Building atau pembangunan karakter pencitraan yang  tepat sasaran. Tidakkah terpikir oleh kita betapa rumitnya mencari karakter yang pas untuk membangun imaji pencitraan dari mulai tema, tingkah laku, busana dan lain-lain. Tetapi dengan adanya peran konsultan politik yang tahu benar akan kebutuhan pencitraan di suatu daerah pemilihan, maka hal tersebut bukanlah menjadi sesuatu yang sulit.
Terlepas dari figur awal Jokowi yang merakyat ataupun Ahok yang merupakan new idol comer. Peran konsultan politik adalah ornamen penting dibalik suksesnya Jokowi - Ahok. Banyak konsultan politik Indonesia yang perannya "hanya" menelanjangi finansial dari si calon tanpa rasa memiliki. Bahasa gaulnya adalah "kalah menang gue tetap untung". Mulai dari fenomena inilah diharapkan banyak konsultan-konsultan politik yang tidak hanya memikirkan untungnya saja akan tetapi paling tidak memiliki sense of belong karena tidak semua calon-calon kepala daerah memiliki finansial yang cukup. Ada kepala daerah dengan potensi yang mumpuni tapi tidak punya cukup materi untuk ongkos mencalonkan diri, karena kalau ongkos politik untuk mencalonkan dirinya saja sudah banyak, bisa dibayangkan jika calon tersebut sukses menjadi kepala daerah, tentunya yang akan dipikirkan pertama kali si kepala daerah bagaimana caranya untuk mengembalikan modal awal tersebut sehingga terbuka peluang praktik-praktik korupsi.
Pada intinya semua ini merupakan sebuah pembelajaran politik bagi lembaga survei, konsultan politik maupun rakyat Indonesia sekalipun, dimana seorang calon yang merasa the have dalam hal apapun belum tentu akan selalu sukses dalam memenangkan suatu Pilkada. Sekali lagi selamat untuk bapak Jokowi - Ahok, semoga semakin banyak Jokowi dan Ahok baru lahir di daerah-daerah lainnya di bumi demokrasi Indonesia. (moer/lamda-ksi/12)