Perang Bintang Di Pilgub Jabar 2013

Pada tanggal 24 Februari tahun 2013 nanti akan dilaksanakan pemilihan Gubernur provinsi Jawa Barat untuk memilih Kepala Daerah yang bertugas pada masa bakti 2013 sampai dengan 2018. Provinsi Jawa Barat yang berpenduduk sekitar 43 juta jiwa atau lebih tepatnya 43.021.826 (sensus thn 2010) yang merupakan provinsi terbesar dalam hal jumlah penduduk di Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi 5 tahunan dengan melibatkan sekitar 33,5 juta pemilihnya. 
Dengan jumlah pemilih yang besar itulah maka boleh dikatakan bahwa Jawa Barat merupakan salah satu Barometer Politik dalam percaturan pilkada di Indonesia. Pada pilgub tahun 2008 beberapa waktu lalu yang menghasilkan pasangan gubernur dan Wagub terpilih yaitu Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf adalah salah satu indikator mengapa Jawa Barat tepat dikatakan sebagai Barometer Politik Indonesia. Alasannya adalah pada saat itu, Dede Yusuf yang mempunyai profesi sebagai Artis dan berpasangan dengan politisi dari PKS yaitu Ahmad Heryawan, bisa memenangkan Pilgub Jawa Barat 2008 yang terkenal dengan pasangan HADE-nya. Pada saat itu pemilihan kepala daerah yang melibatkan artis profesional sebagai kontestannya masih sangat jarang didengungkan.
Pasca sukses dengan terpilihnya Dede Yusuf sebagai Wagub Jawa Barat pada waktu itu, beberapa kontestan pilkada di daerah lain di Indonesia mulai ikut-ikutan mendaftarkan artis sebagai pasangannya yang beberapa diantaranya adalah Rano Karno (kab. Tangerang), Dicky Chandra (kab. Garut), Andre OVJ (kota Tangsel) dan beberapa lainnya. Walaupun tidak semua kontestan (artis)nya bisa sukses memenangkan beberapa pilkada tersebut, akan tetapi fenomena tersebut telah menjadi buah bibir di percaturan politik tanah air. Analisa awal yang dihadapkan pada fenomena ini adalah kebutuhan akan adanya faktor pencitraan instan (POPULARITAS)  yang diperlukan oleh beberapa calon kandidat kontestan pilkada. Kita mengetahui bahwa di dalam suatu pemilihan umum yang demokratis, faktor  utama yang berperan adalah POPULARITAS sebelum si calon tersebut disukai (AKSEPTABILITAS) dan akhirnya dipilih (ELEKTABILITAS). Pada level popularitas itulah peran profesi artis sebagai pendongkrak pencitraan instan diperlukan, tidak peduli apakah si artis tersebut mengetahui ilmu pemerintahan atau tidak yang penting popularitasnya bagus dan image-nya baik.
Pendaftaran calon peserta Pilgub Jabar 2013 yang ditutup pada tanggal 4 November 2012 lalu, terdapat 5 pasangan yang akan bertarung yaitu 4 pasangan calon dari jalur Partai Politik dan 1 pasangan calon dari jalur Independen. Ke lima pasangan tersebuat adalah : Ahmad Heryawan - Dedy Mizwar, Yusuf  M. Effendi (Dede Yusuf) - Leks Laksamana, Rieke Dyah Pitaloka - Teten Masduki, Irianto M.S (Yance) - Tatang F. Hakim dan pasangan Independen Dikdik S. - Thoyib. Setelah mengamati ke lima pasangan calon tersebut, ada 3 orang artis yang ikut dalam pertarungan tersebut yaitu aktor senior dan bintang iklan Dedy Mizwar, Aktor Sinetron dan Wagub Jabar saat ini Dede Yusuf dan yang ketiga adalah bintang sinetron "Bajaj Bajuri" Rieke Dyah Pitaloka yang saat ini aktif  menjadi seorang Politikus.
Pertarungan tiga orang selebritis tersebut pada Pilgub Jabar 2013 nanti akan menjadi sebuah Perang Bintang walaupun konotasi "Bintang" tersebut merupakan bintang dalam artian bintang sinetron ataupun bintang film. Lamda memprediksi dari hasil Polling bahwa pasangan Incumbent yaitu Ahmad Heryawan - Deddy Mizwar akan memenangkan Pilgub ini. Dengan tidak mengecilkan peran kontestan lainnya yang tidak memakai artis sebagai pasangan calonnya, pertarungan di Pilgub Jabar nanti akan menjadi sesuatu yang berbeda dengan pilkada-pilkada lainnya di Indonesia. Terlepas dari label perang bintang tersebut, perlu kita tunggu dan kita amati apakah fenomena artis dalam sebuah pilkada di Indonesia akan menjalar pula pada perhelatan akbar Pilpres 2014?, apakah Jawa Barat masih menjadi Barometer pada percaturan politik di Indonesia?. Yang jelas kita sukseskan dahulu Pemilihan Gubernur Jawa Barat untuk memilih Gubernur dan Wakil Gubernur periode 2013 - 2018. (SM-Lamda Indonesia)