Menakar Peluang Calon Independen Di Pilkada Pekanbaru

Sebagai alternatif bagi calon pemimpin daerah yang akan maju untuk ikut bertarung pada pilkada selain melalui jalur partai politik, calon independen diyakini akan mampu membuat perubahan peta politik di Indonesia. Kondisi dan situasi politik yang terjadi di Indonesia pada saat ini yaitu dimana tingkat kepercayaan rakyat yang makin rendah kepada partai politik, diyakini akan ikut membawa hal yang positif berupa dukungan dan harapan yang besar rakyat terhadap calon independen.
Saat ini kondisi tersebut sudah mulai dirasakan masyarakat Jakarta yang akan menghelat pilkada untuk memilih gubernurnya pada tahun 2017 yang akan datang. Sebagai gubernur DKI Jakarta yang masih aktif menjabat, Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama memilih jalur independen untuk kembali mencalonkan dirinya maju memperebutkan jabatan Gubernur DKI Jakarta periode 2017 - 2022. Lazimnya incumbent atau petahana yang masih aktif memimpin dan ingin kembali mencalonkan diri, tentunya dukungan partai politik akan sangat mudah didapat sebagai syarat administrasi pendaftaran ke KPUD. Namun lain halnya yang terjadi pada calon gubernur Ahok, meskipun ia bukan langsung mendapat jabatan gubernur pada pilkada beberapa waktu lalu tapi dengan pedenya ia akan maju melalui jalur independen (selengkapnya baca disini).
Hal yang terjadi di Jakarta tersebut, kemungkinan besar juga akan menjalar ke beberapa daerah lainnya yang akan melaksanakan pilkada serentak tahun 2017 nanti. Begitu pun di kota Pekanbaru yang juga akan melaksanakan pemilihan walikota secara serentak pada tahun 2017 nanti. Calon-calon kandidat yang akan maju melalui jalur independen akan pula bermunculan dan tidak tertutup kemungkinan juga sang petahana. Pernyataan tersebut didukung dengan survei yang telah dilakukan oleh LAMDA Indonesia di kota Pekanbaru yang telah mewawancarai sebanyak 600 responden sebagai warga kota yang telah memiliki hak pilih. Survei itu menanyakan sikap politik responden mengenai pilihan kepada calon independen yang menurut mereka sangat berpotensi untuk memimpin. Menurut survei perilaku politik pemilih tersebut, 40,4% warga tetap akan memilih calon yang disukai walaupun calon tersebut berasal dari jalur perseorangan. Sedangkan 49,2% warga belum memutuskan sikapnya. Untuk lebih jelasnya tergambar pada grafik dibawah ini.


Pada hasil survei tersebut, peluang calon kandidat yang akan maju lewat jalur independen sangat terbuka lebar. Dukungan dari 40% warga menyatakan hal itu dan hanya 2,9% saja yang tidak akan memilih sama sekali (golput) jika calon favoritnya maju lewat jalur independen. Akan tetapi pernyataan warga tersebut diapresiasi ketika warga menilai jika yang akan maju calon yang potensial. Artinya calon tersebut memiliki kriteria kepemimpinan yang disukai oleh warga kota Pekanbaru. Nah seperti apa kriteria atau sifat pemimpin yang disukai oleh warga? Kita akan ulas pada tulisan berikutnya nanti.