Hasil Survei Terbaru Pilgub Riau Juni 2018

Hari ini Lamda Indonesia merilis hasil Survei Perilaku Pemilih menjelang pelaksanaan Pemilihan Gubernur provinsi Riau 2018. Survei ini dilaksanakan pada tanggal 1 Juni sampai dengan 7 Juni 2018 lalu dengan menggunakan metodologi Multistage Random Sampling yang mewancarai secara tatap muka langsung terhadap 1340 responden yang tersebar di 12 kabupaten/kota di provinsi Riau. Margin of error survei 2,69% dengan tingkat kepercayaan 95%. Kontrol kualitas data dilakukan dengan cara random spot check sebesar 20% dari jumlah responden untuk menjamin validitas data survei.  Berikut tingkat elektabilitas yang dimiliki oleh 4 pasangan calon yang akan bertarung pada tanggal 27 Juni nanti dari hasil survei tersebut.


FirdausRusli menjadi paslon yang paling banyak didukung oleh 25.4% masyarakat Riau dalam pilgub nanti. Paslon Syamsuar – Edi menjadi saingan terberat yang berhasil meraih dukungan dari 20.64% warga Riau. Sementara itu paslon Lukman Edi – Hardianto ada di posisi selanjutnya (13.2%), sedangkan petahana ada di urutan paling bawah dengan dukungan 12.9% pemilih. Namun warga yang merasa pilihannya tidak ada yang cocok dan tidak menjawab masih sangat besar yaitu 1.6% dan 26.3%. Namun yang perlu diingat adalah responden yang merasa belum cocok dan tidak menjawab atau rahasia masih besar, jadi bisa saja pemilih tersebut pada hari H nanti memilih salah salah satu dari ke empat paslon. Peluang para paslon tersebut masih sangat besar untuk menyodok keatas, paslon paling bawah bisa menyodok ke atas begitupun sebaliknya. Strategi pemenangan yang tepat diyakini akan mengubah segalanya. (SM)











Hasil Survei Pilgub Riau April 2018


Lembaga survei dan pemetaan politik LAMDA Indonesia bekerjasama dengan Jaring Surveyor Pekanbaru baru saja melakukan survei perilaku pemilih yang menggunakan 1140 responden untuk Pemilihan Gubernur Riau tahun 2018. Hasilnya adalah pasangan Syamsuar -Edy Nasution dan Firdaus-Rusli bersaing untuk merebut hati sekitar 32,3%  pemilih masyarakat Riau. Keduanya ternyata lebih banyak disukai masyarakat baik secara pribadi ataupun pasangan calon. Syamsuar – Edi meraih 16,5% dan Firdaus – Rusli 15,8% pemilih yang diwakili oleh responden.
Peneliti senior Lamda Indonesia S. Murtianto mengatakan bahwa "Saat ini hanya kedua pasangan tersebut yang berhasil merebut simpati mayoritas warga Riau untuk menjadi Gubernur baru mereka, namun kemungkinan apapun masih bisa saja terjadi karena ada kuda hitam yang siap melompati kedua pasangan tersebut di saat-saat akhir pemilihan suara nanti ".  Kemungkinan besar yang dimaksud kuda hitam dalam pernyataan S. Murtianto tersebut adalah pasangan Lukman Edy – Hardianto yang meraih sekitar 12,7% suara. Sebagai Informasi tambahan, masyarakat Riau yang belum menyatakan dukungan pilihannya menurut survei ini masih lumayan banyak. Ada sekitar 37,3 % yang ternyata belum menentukan sikap politiknya.
Survei persepsi pemilih ini diselenggarakan pada tanggal 2 April sampai dengan tanggal 9 April dengan memakai metode multistage random sampling. Menurut Jo Purnomo yang merupakan koordinator survei ini, mengatakan “wawancara dilakukan secara tatap muka face to face terhadap responden yang terpilih secara acak di semua Kabupaten/Kota dan survei ini memiliki margin of error sebesar +/- 3% dengan tingkat kepercayaan 95%”. Jo menambahkan bahwa tingkat partisipasi memilih masyarakat Riau cukup tinggi dalam menghadapi pilgub yang akan diselenggarakan pada bulan Juni nanti. “Sebanyak 89,6% masyarakat akan menggunakan hak pilihnya pada pilgub Juni nanti, sedangkan 11,4% lainnya menyatakan belum memilih. Alasan utama mayarakat Riau belum tentu memilih adalah karenanya kurangnya sosialisasi terhadap pelaksanaan pilgub dan kurangnya informasi mengenai kandidatnya” beber Jo saat ditanya partisipasi pemilih Riau.
Kedua Peneliti senior Lamda Indonesia, Murtianto dan Jo Purnomo sepakat bahwa kemungkinan apapun masih bisa saja terjadi pada bulan Juni nanti. Walaupun ada dua pasangan calon yang saat ini meraih dukungan tertinggi, namun tidak ada jaminan salah satu dari kedua paslon tersebut memenangkan pertarungan merebut kursi Riau 1 mengingat swing voter masih lumayan tinggi dan ditambah lagi dengan kemungkinan berpindahnya sikap dukungan pemilih pada hari H nanti. “Paslon yang memiliki strategi yang akurat dan efisien diyakini akan dapat meyakini pemilih yang masih ragu dan sekaligus memenangkan pertarungan  nanti, kita tunggu saja nanti 1 bulan kedepan” pungkas mereka berdua serentak menutup pembicaraan mengenai hasil survei perilaku pemilih tersebut.


BACA JUGA : Jargon Kampanye Favorit Pilgub Riau

Hasil Survei Pilgub Jabar 2018

Geliat politik di Jawa Barat kian memanas menjelang Pilgub serentak tanggal 27 Juni nanti. Beberapa hasil survei telah dirilis oleh lembaga-lembaga survei opini publik. LAMDA Indonesia yang juga merupakan Lembaga riset dan opini publik meyakini bahwa survei yang telah dirilis oleh lembaga-tersebut sangat kredibel dan dapat dipertanggung jawabkan hasilnya.Pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi memimpin dalam survei elektabilitas Pilkada Jawa Barat yang dipublikasikan Litbang Kompas beberapa waktu lalu. Elektabilitas pasangan Deddy-Dedi atau Duo D ini mencapai 42,8 persen suara. Disusul kemudian pasangan Rindu atau Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul yang memperoleh 39,9 persen. Sementara pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) meraih 7,8 persen dan pasangan TB Hasanuddin-Anton Charliyan (Hasanah) menggaet 3,1 persen. Adapun 6,4 persen responden tidak menjawab atau rahasia.Sementara itu, jika dilihat keterpilihan pasangan calon berdasarkan partai pendukung, dalam survei ini, Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi mendapat dukungan Golkar-Demokrat 52,9 persen; PDI-P 41,6 persen, Gerindra, PKS, dan PAN 35,5 persen; serta Nasdem, PPP, PKB, dan Hanura 28,8 persen. Selanjutnya diikuti pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul yang meraih 34,2 persen dari Golkar-Demokrat; 43,2 persen dari PDI-P; 36,4 persen dari Gerindra, PKS, dan PAN; serta 62,7 persen dari Nasdem, PPP, PKB, dan Hanura. Berikutnya, untuk pasangan TB Hasanuddin-Anton Charliyan Sudrajat-Ahmad Syaikhu, dari Golkar-Demokrat memperoleh 3,2 persen; PDI-P 8,0 persen; Gerindra, PKS, dan PAN 0,8 persen; serta Nasdem, PPP, PKB, dan Hanura 1,7 persen. Sosok yang Diusung Pengaruhi Dukungan Partai  Yang terakhir, pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu memperoleh 4,3 persen dari Golkar-Demokrat; 4,0 persen dari PDI-P; 21,5 persen dari Gerindra, PKS, dan PAN; serta 3,4 persen dari Nasdem, PPP, PKB, dan Hanura.Dari survei yang dilakukan berupa pertanyaan bersifat langsung dan simulasi surat suara yang bersifat tertutup itu, didapat hasil bahwa keterpilihan suatu pasangan dipengaruhi seberapa dikenalnya pasangan itu oleh masyarakat di daerah tersebut. Sebagai contoh pasangan TB Hasanuddin-Anton Charliyan. Ternyata belum banyak orang yang mengetahui sosok TB Hasanuddin sebagai purnawirawan jenderal bintang dua yang lahir di Majalengka. Sama halnya dengan Anton Charliyan, mantan Kapolda Jabar yang lahir di Tasikmalaya. Pasangan ini hanya memperoleh 15 persen pemilih. Begitu pula dengan PKS. Seperti diketahui, Jabar menjadi basis massa partai ini dalam 10 tahun terakhir. Namun, dari survei ini, PKS bersama Gerindra dan PAN yang mengusung Sudrajat-Ahmad Syaikhu hanya mendapat 4,5 persen suara responden melalui metode pertanyaan terbuka. Sementara melalui simulasi kertas suara tertutup, pasangan ini meraih sekitar 7,8 persen suara. Dengan demikian, pasangan Asyik ini juga menempati posisi bawah. Bahkan, Ahmad Syaikhu yang menjadi Wakil Wali Kota Bekasi pun belum bisa menggaet banyak pendukung PKS di sana. Begitu juga di Bogor, Depok, dan Sukabumi. Bisa jadi karena belum banyak masyarakat Jabar yang mengenal Sudrajat-Ahmad SyaikhuWalau bagaimanapun, hasil survei yang dikeluarkan oleh lembaga survei tersebut belumlah menjadi patokan siapa yang akan menjadi pemimpin Jabar nantinya. Hari pemilihan masih lumayan jauh, apapun masih bisa saja terjadi dua bulan kedepannya, apalagi ditambah dinamika politik nasional yang terus berfluktuasi mengikuti isu-isu politik dan masalh-masalah sosial terkini.



sumber : litbang kompas

Sentimen Gender Memihak AHY

Strategi memasangkan cagub Agus Harimurti Yudhoyono dengan Sylviana Murni oleh inisiator ataupun konsultan politiknya pada Pilgub DKI 2017 nanti terbukti efektif menarik dukungan pemilih perempuan Jakarta. Sebagai seorang new comer di kancah kontestasi politik sekelas pemilihan kepala daerah DKI Jakarta, AHY dan timnya mampu secara jeli membaca situasi. Dengan berbekal kemampuan pengalaman karier birokrasi yang mumpuni, rekam jejak yang relatif bersih dan modal primordial sebagai seorang pribumi, sosok seorang wanita yang bernama Sylviana Murni pun akhirnya dipilih menjadi pasangan AHY. Terbukti dari berbagai hasil survei yang dibuat oleh beberapa lembaga survei, pasangan tersebut mampu mendominasi dukungan mayoritas warga Jakarta dari pasangan lainnya.
Terlepas dari isu agama dan isu-isu sosial lainnya, sentimen gender juga ditengarai mempengaruhi tingkat elektabilitas pasangan calon pada Pilgub Jakarta saat ini. Hal tersebut diperkuat juga oleh hasil survei perilaku pemilih terhadap warga Jakarta yang dilakukan oleh LAMDA Indonesia awal bulan Januari kemarin. Ketika survei menanyakan sikap kepada warga, pantaskah jika ada seorang perempuan yang mencalonkan diri menjadi Gubernur atau Wakil Gubernur.  Hasilnya adalah cagub ataupun cawagub perempuan tidak dipermasalahkan dalam Pilgub nanti. Pernyataan sikap itu dinyatakan oleh 67% warga  dan 12% lainnya menganggap bahwa laki-laki atau perempuan sama saja dan hanya 15% saja yang menyatakan tidak pantas. Untuk lebih jelasnya ada pada grafik dibawah ini.

Pada hasil survei perilaku pemilih tersebut jelas terlihat bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat elektabilitas paslon AHY-Sylvi ada pada sentimen gender. Fakta bahwa paslon tersebut adalah paslon satu-satunya yang mengusung calon perempuan memperkuat analisis tersebut. Walaupun pemilih perempuan di Indonesia masih didominasi oleh Ibu Rumah Tangga namun jika sentimen ini diolah dengan baik dan benar niscaya dukungan positif akan datang dengan sendirinya. Satu lagi analisa hasil survei yang membedah kenyataan tersebut ada pada tabel peta dukungan menurut gender dibawah ini.










Terbukti dari hasil survei perilaku pemilih yang memiliki moe 3,67% tersebut, paslon AHY-Sylvi berhasil menarik dukungan pemilih perempuan. Terlihat jelas dukungan terbesar paslon tersebut jika dilihat dari jenis kelamin pemilih ada pada gender perempuan. Sedangkan pemilih laki-laki sikap dukungan terbelah hampir sama rata dengan paslon lainnya.

Pilgub Jakarta Dua Putaran


Pemilihan Gubernur DKI Jakarta di prediksi akan berlangsung dua putaran. Hal tersebut terlihat pada jumlah dukungan terhadap salah satu kontestan yang belum mencapai lebih dari 50% suara. Paslon Agus-Sylvi meraih dukungan terbanyak dari 33.7% warga, walaupun agak ketat selisihnya dengan paslon Ahok-Djarot di posisi 2. Jika Pilgub berlangsung dua putaran, maka peluang terbesar lolos ke putaran selanjutnya adalah pasangan AHY–Sylvi & Ahok–Djarot. Namun kemungkinan apapun masih sangat bisa terjadi melihat warga yang galau belum menentukan pilihannya masih lumayan besar (11,5%).
Hasil tersebut terungkap pada Survei Perilaku Pemilih terhadap warga Jakarta. Survei perilaku pemilih tersebut dilaksanakan pada  periode 30 Desember sampai dengan 7 Januari 2017. Survei meggunakan metode Multistage Random Sampling yang menjaring sebanyak 712 responden dari warga Jakarta yang telah memiliki hak pilih, untuk diwawancarai secara tatap muka langsung  mengenai aspirasi pilihan politiknya pada Pilgub nanti. Margin of Error dalam survei tersebut sebesar 3,67% pada tingkat kepercayaan 95%.  Sumber dana survei berasal dari dana lembaga untuk kepentingan riset pemilih Jakarta.

Apabila seandainya AHY-Sylvi dan Ahok-Djarot yang akan melengggang ke putaran selanjutnya maka yang terjadi adalah AHY – Sylvi akan tetap unggul dengan 43% dukungan. Pendukung paslon Anies – Sandy ternyata lebih banyak memberikan suaranya kepada paslon AHY –Sylvi yang mendapat limpahan 9.3% suara, sedangkan Ahok – Djarot hanya mendapat limpahan 6.3% saja.


Politik Uang Belum Tentu Efektif Di Pilgub Jakarta

Politik uang atau lazim juga disebut dengan istilah Money Politics ternyata belum tentu efektif untuk mendongkrak dukungan suara pada perhelatan Pilgub DKI Jakarta nanti. Hal tersebut terungkap pada hasil Survei Perilaku Pemilih yang dilakukan oleh Lembaga survei Lamda Indonesia di Jakarta pada awal tahun ini. Sebanyak 712 warga yang telah memiliki hak pilih dan memiliki KTP DKI Jakarta diwawancarai secara tatap muka langsung sebagai responden. Metode multistage random sampling adalah metode yang digunakan untuk menentukan sampel responden dengan margin of error 3,67% pada tingkat kepercayaan 95%.

Separuh warga Jakarta atau lebih tepatnya 50,8% warga menyatakan sikap dengan tegas bahwa akan menolak pemberian dari timses dengan maksud supaya dukungan suaranya nanti diberikan kepada salah satu paslon. Namun yang menarik adalah ketika sikap warga yang mau menerima tapi belum tentu memberikan dukungannya kepada paslon yang memberikan pemberian. Sebanyak 25,8% warga menyatakan sikap tersebut. Hanya 5,6% warga yang "fair" menyatakan akan memberikan dukungan kepada paslon yang melakukan politik uang dan 14,8% diantaranya tidak mengungkapkan sikapnya.
Dari sikap warga yang menerima pemberian baik itu yang "fair" maupun yang belum tentu mendukung paslon yang memberikan, hampir separuhnya menginginkan pemberiannya berupa uang. Pemberian berupa kebutuhan harian berupa Sembako atau sembilan bahan pokok menjadi pemberian yang disukai oleh 25,9% warga Jakarta lainnya. Lebih jelasnya bisa dilihat pada grafik dibawah ini.

Toleransi warga DKI Jakarta terhadap politik uang pada perhelatan Pilgub bulan Februari nanti merupakan ciri sikap sebagian besar masyarakat perkotaan di Indonesia dalam menghadapi Pilkada. Tingkat pendapatan maupun tingkat pendidikan yang relatif tinggi adalah faktor kunci yang mempengaruhi sikap tersebut. Untuk paslon yang ingin menerapkan hal tersebut tentu akan berfikir dua kali jika ingin menggunakan strategi politik uang tersebut untuk mendongkrak dukungan suaranya nanti. Program pembangunan yang efektif, visi misi yang sesuai dan sifat kepemimpinan yang baik adalah cara yang jitu menarik simpati dan dukungan warga yang akan memilih.    
  

   

Tingkat Popularitas Calon Pemimpin Kota Pekanbaru

Walaupun perhelatan pemilihan walikota masih tahun depan lagi, namun geliat politik di kota Pekanbaru sudah bergelora. Ya! kota Pekanbaru adalah salah satu dari 101 daerah yang akan melaksanakan pemilihan kepala daerah secara serentak pada bulan Februari tahun 2017 nanti. Sejumlah tokoh sudah bermunculan untuk bersaing memperebutkan jabatan orang nomor satu di Pekanbaru. Tidak terkecuali juga pasangan petahana yang masih aktif menjabat pun dikabarkan akan ikut meramaikan bursa pemilihan walikota nanti.
Tokoh-tokoh yang santer dikabarkan akan ikut dalam kontestasi politik itupun berasal dari bermacam macam latar belakangnya. Ada yang berlatar belakang tokoh politik atau pengurus parpol, pengusaha, birokrat, tokoh agama dan lain sebagainya. Sebagaimana yang telah diatur dalam UU Pilkada sebelumnya, para tokoh tersebut memiliki hak dipilih maupun memilih.Tentunya yang membedakan para tokoh tersebut adalah peluang untuk dipilih.
Tentunya kita semua sudah mengetahui bahwa peluang untuk dipilih dan memenangkan sebuah kontestasi politik sangat bergantung pada tiga hal utama. Hal tersebut adalah PAE, yaitu POPULARITAS, AKSEPTABILITAS dan tentunya ELEKTABILITAS. Popularitas adalah tingkat keterkenalan atau kepopuleran seorang tokoh di mata calon pemilih. Tingkat popularitas ini adalah tingkatan paling fundamental yang harus dimiliki oleh seorang kandidat. Logika sederhananya adalah calon pemilih tentunya tidak akan menyukai atau mendukung kandidat jika ia tidak mengenal sebelumnya, istilah populernya "tak kenal maka tak sayang". Kedua adalah tingkat Akseptabilitas yaitu tingkat kepantasan atau keterterimaan seorang kandidat apakah ia cocok dan pantas menjadi walikota. Dan yang terakhir adalah tingkat Elektabilitas atau dukungan kepada seorang kandidat. Jika seorang tokoh yang akan maju sebagai kandidat memiliki tingkat PAE yang paling tinggi diantara para tokoh lainnya, maka dipastikan kandidat itulah yang paling berpeluang untuk menang dalam sebuah pemilihan kepala daerah.
Dalam hal ini, untuk mengetahui siapa tokoh-tokoh yang paling berpeluang menjadi pemimpin Pekanbaru dilihat dari tingkat keterkenalannya, maka kami akan sajikan tabel 10 besar tingkat popularitas calon kandidat walikota yang berasal dari hasil survei perilaku pemilih yang sudah dilakukan oleh LAMDA Indonesia beberapa waktu lalu.


Pada tabel diatas, pasangan petahana Firdaus dan Ayat Cahyadi masih menjadi yang teratas. Hal tersebut bukan menjadi hal yang luar biasa karena memang status petahana akan lebih unggul daripada tokoh lainnya di setiap daerah. Tokoh lainnya yang membayangi tingkat popularitas pasangan petahana tersebut adalah Septina P. Rusli yang merupakan tokoh parpol di provinsi Riau. Tokoh Pekanbaru lainnya yang memiliki peluang untuk memimpin kota dilihat dari tingkat popularitasnya berturut-turut ialah Erizal Moeloek, Irvan H. A. putra dari mantan walikota Pekanbaru Herman Abdullah, tokoh politik Zulfan Hafiz, Sondia Warman, Ade Hartati, Kepala Dinas Cipta Karya provinsi Riau Dwi Agus Sumarno dan melengkapi  10 besar yaitu Novrizal.
Tingkat popularitas dari tokoh di Pekanbaru  tersebut adalah hasil dari survei perilaku pemilih warga kota Pekanbaru yang dilakukan pada bulan Februari 2016 atau tepat setahun sebelum pilwako 2017 akan dilaksanakan.Survei tersebut menggunakan sampel sebanyak 600 responden yang tersebar secara proporsional di seluruh kecamatan. Metode penentuan sampel yang digunakan adalah multistage random sampling yang mewawancarai responden secara tatap muka langsung.

     

  

Menakar Peluang Calon Independen Di Pilkada Pekanbaru

Sebagai alternatif bagi calon pemimpin daerah yang akan maju untuk ikut bertarung pada pilkada selain melalui jalur partai politik, calon independen diyakini akan mampu membuat perubahan peta politik di Indonesia. Kondisi dan situasi politik yang terjadi di Indonesia pada saat ini yaitu dimana tingkat kepercayaan rakyat yang makin rendah kepada partai politik, diyakini akan ikut membawa hal yang positif berupa dukungan dan harapan yang besar rakyat terhadap calon independen.
Saat ini kondisi tersebut sudah mulai dirasakan masyarakat Jakarta yang akan menghelat pilkada untuk memilih gubernurnya pada tahun 2017 yang akan datang. Sebagai gubernur DKI Jakarta yang masih aktif menjabat, Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama memilih jalur independen untuk kembali mencalonkan dirinya maju memperebutkan jabatan Gubernur DKI Jakarta periode 2017 - 2022. Lazimnya incumbent atau petahana yang masih aktif memimpin dan ingin kembali mencalonkan diri, tentunya dukungan partai politik akan sangat mudah didapat sebagai syarat administrasi pendaftaran ke KPUD. Namun lain halnya yang terjadi pada calon gubernur Ahok, meskipun ia bukan langsung mendapat jabatan gubernur pada pilkada beberapa waktu lalu tapi dengan pedenya ia akan maju melalui jalur independen (selengkapnya baca disini).
Hal yang terjadi di Jakarta tersebut, kemungkinan besar juga akan menjalar ke beberapa daerah lainnya yang akan melaksanakan pilkada serentak tahun 2017 nanti. Begitu pun di kota Pekanbaru yang juga akan melaksanakan pemilihan walikota secara serentak pada tahun 2017 nanti. Calon-calon kandidat yang akan maju melalui jalur independen akan pula bermunculan dan tidak tertutup kemungkinan juga sang petahana. Pernyataan tersebut didukung dengan survei yang telah dilakukan oleh LAMDA Indonesia di kota Pekanbaru yang telah mewawancarai sebanyak 600 responden sebagai warga kota yang telah memiliki hak pilih. Survei itu menanyakan sikap politik responden mengenai pilihan kepada calon independen yang menurut mereka sangat berpotensi untuk memimpin. Menurut survei perilaku politik pemilih tersebut, 40,4% warga tetap akan memilih calon yang disukai walaupun calon tersebut berasal dari jalur perseorangan. Sedangkan 49,2% warga belum memutuskan sikapnya. Untuk lebih jelasnya tergambar pada grafik dibawah ini.


Pada hasil survei tersebut, peluang calon kandidat yang akan maju lewat jalur independen sangat terbuka lebar. Dukungan dari 40% warga menyatakan hal itu dan hanya 2,9% saja yang tidak akan memilih sama sekali (golput) jika calon favoritnya maju lewat jalur independen. Akan tetapi pernyataan warga tersebut diapresiasi ketika warga menilai jika yang akan maju calon yang potensial. Artinya calon tersebut memiliki kriteria kepemimpinan yang disukai oleh warga kota Pekanbaru. Nah seperti apa kriteria atau sifat pemimpin yang disukai oleh warga? Kita akan ulas pada tulisan berikutnya nanti.






   

Ridwan Kamil Dan Firdaus Mendapat Penghargaan


(12/04/2016). Walikota Bandung Ridwan Kamil dan Walikota Pekanbaru Firdaus meraih penghargaan sebagai walikota paling Inspiratif di seluruh Indonesia beserta tiga kepala daerah lainnya. Penghargaan itu dinobatkan oleh Sindo, salah satu surat kabar dari grup MNC yang menyelenggarakan acara tahunan Sindo Weekly Government Award 2016 pada tanggal 12 April 2016 di Jakarta. Ada beberapa kategori penghargaan lainnya yang diberikan oleh kegiatan ini kepada sejumlah kepala daerah misalnya, Kategori Peduli Lingkungan, Kesehatan, Pariwisata, Investasi, Pertumbuhan Ekonomi dan lainnya.
Penghargaan paling prestisius adalah penghargaan Kepala Daerah Inspiratif. Penghargaan ini berdasarkan dari beberapa indikator mengenai tata kelola pemerintahan yan baik sebagai parameter untuk penilaian para kepala daerah di Indonesia. Salah satu penerima penghargaan ini adalah Ridwan Kamil atau akrab disapa kang Emil, beliau telah berhasil membangun kota Bandung dengan menerapkan teknologi digital pada sistem tata kelola pemerintahannya salah satunya. Sedangkan untuk Firdaus walikota Pekanbaru saat ini, telah mampu membuat tata ruang kotanya sejalan dengan konsep kota Madani yang telah dicita-citakan olehnya dan masyarakat kota Pekanbaru pada saat ini.
Dilihat dari hasil survei kepuasan publik terhadap persentase kelayakan hidup bagi warga kota Pekanbaru beberapa waktu lalu, terlihat jelas bahwa masyarakat merasakan kualitas hidup yang layak dan cukup layak sebesar 44,5% dan 42,9%. Masyarakat yang merasa tidak layak hidup di kota Pekanbaru hanya sebesar 8% saja dan warga yang tidak tahu atau tidak menjawab sekitar 4,6%.


Hal tersebut diatas seakan memberi relevansi bahwa walikota pada saat ini telah berhasil memperbaiki mutu untuk hidup dan berkehidupan di kota Pekanbaru. Selain itu, kinerja Walikota dan Wakil Walikota pun turut menyumbang andil besar dalam kualitas tata kelola pemerintahan atau Good Governance yang tertuang dalam Millenium Developmen Goals sebagai cita-cita masyarakat madani yang adil dan sejahtera.
Berikut grafik hasil survei kepuasan publik terhadap kinerja walikota dan wakilnya di kota Pekanbaru :

Kinerja Walikota Pekanbaru

Kinerja Wakil Walikota Pekanbaru




   

Warga Pekanbaru Sudah Siap Memilih Walikotanya

Pilkada serentak kembali akan digelar oleh Komisi Pemilihan Umum di beberapa wilayah Indonesia pada tahun 2017 nanti. Sebanyak 101 daerah yang terdiri dari 7 provinsi, 76 kabupaten dan 18 kota akan menggelar pemilihan kepala daerah secara bersamaan. Dari 18 kota yang akan menyelenggarakan pilkada tersebut, salah satu diantaranya adalah kota Pekanbaru di provinsi Riau.
Kurang lebih sebanyak 650.000 warga yang sudah memiliki hak pilih di kota Pekanbaru akan menggunakan haknya untuk memilih calon walikotanya nanti. Walaupun pelaksanaan pilkada masih 10 bulan lagi, akan tetapi pengetahuan warga kota Pekanbaru terhadap adanya pemilihan walikota pada tahun 2017 nanti sudah cukup baik.  
Sebanyak 70,3% warga kota Pekanbaru yang telah memiliki hak pilih, sudah mengetahui akan adanya pilkada pada tahun 2017 nanti. Sedangkan warga yang belum mengetahuinya hanya sebanyak 29,7% saja. Kondisi tersebut merupakan hal yang cukup bagus, dimana angka pengetahuan warga sudah cukup tinggi walaupun pelaksanan pilkada masih lumayan lama. Warga Pekanbaru yang sudah pasti ingin menyalurkan hak pilihnya dengan cara mencoblos pada pilkada nanti sebesar 77,8%. Dan hanya sekitar 21,2% saja yang menyatakan sikap belum pasti memilih, tidak mencoblos dan tidak tahu/tidak jawab.
Kondisi tersebut diatas adalah gambaran dari hasil survei perilaku pemilih yang mewawancarai 600 orang warga kota Pekanbaru sebagai responden terpilih untuk mewakili populasi penduduk yang sudah memiliki hak pilih. Metode yang digunakan dalam survei tersebut adalah multistage random sampling, dimana pemilihan responden berdasarkan dari jenjang acak bertingkat. Margin of error dari survei ini +/- 4% yang berada pada tingkat kepercayaan 96%. Periode pengambilan data kuantitatif dilaksanakan pada bulan Februari 2016. Survei ini dilakukan oleh lembaga riset dan kajian publik LAMDA Indonesia yang bekerjasama dengan LSM lokal di kota Pekanbaru. Berikut grafik hasil survei perilaku pemilih mengenai awareness dan antusias warga terhadap pilkada walikota 2017.

AWARENESS PILKADA
 
SIKAP MEMILIH

Awareness atau tingkat pengetahuan warga terhadap pilkada masih mungkin bisa bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Sosialisasi yang efektif dari KPUD setempat diharapkan mampu menaikkan tingkat pengetahuan warga. Selain sosialisasi dari penyelenggara pilkada, diharapkan pula partisipasi dan dukungan dari pemerintah kota, bakal calon, dan stake holder lainnya untuk terwujudnya pilkada yang jujur, adil dan terlegitimasi oleh rakyat.  

Fenomena Calon Independen


Fenomena bakal calon independen pada perhelatan Pilgub DKI Jakarta tahun 2017 nanti, nampaknya mendapat respon positif dari masyarakat di daerah-daerah yang juga akan menyelenggarakan Pilkada serentak 2017 nanti. Seperti kita ketahui bersama, Gubernur DKI saat ini Basuki Tjahaya Purnama atau familiar dengan panggilan Ahok telah mendeklarasikan diri bersama pasangannya untuk maju bertarung pada Pilgub 2017 nanti melalui jalur independen (non parpol). Pasangan petahana ini menjadi buah bibir lantaran harus rela bersusah payah mengumpulkan KTP warga Jakarta sebagai syarat dukungan untuk maju bertarung lewat jalur independen. Dilihat dari rekam jejak kepemimpinannya semenjak Ahok menggantikan posisi Jokowi sebagai Gubernur DKI, tentu mudah baginya untuk mendapatkan dukungan dari parpol walaupun beberapa statemen dan kebijakannya seringkali berseberangan dengan para anggota DPRD. Selain statusnya sebagai petahana, sosok Ahok di mata parpol adalah sosok yang dapat "menjual"dan berpotensi besar, apalagi di beberapa survei pra pilkada sebelumnya, namanya termasuk yang paling berpeluang merebut posisi DKI 1.

Terlepas dari fenomena Ahok tersebut, di kota Pekanbaru provinsi Riau warga masyarakatnya pun memiliki perilaku politik yang hampir sama dengan apa yang terjadi di Jakarta. Hal ini terungkap pada hasil Survei Perilaku Pemilih warga Kota Pekanbaru pada periode bulan Maret 2016. Warga menyatakan pendapat ketika ditanyakan mengenai sikapnya jika seandainya calon walikota favoritnya maju melalui jalur independen ketika pilkada nanti. Survei Preferensi Pemilih ini dilaksanakan oleh lembaga riset dan survei nasional LAMDA Indonesia (Lembaga Aspirasi Masyarakat Daerah Indonesia). Metode yang digunakan pada kegiatan survei ini adalah Metode Jenjang Acak Bertingkat dimana sampel responden dipilih secara acak berdasarkan proporsional jumlah pemilih di setiap wilayah. Target responden surve ini adalah penduduk Kota Pekanbaru yang telah memiliki hak pilih sebanyak kurang lebih 600 warga yang diwawancarai langsung face to face mengenai perilaku dan sikap politiknya. Berikut hasil survei yang tergambar pada grafik dibawah ini.


  
Sikap politik sebagian besar warga kota Pekanbaru terhadap calon walikota favoritnya apabila maju melalui jalur independen adalah tetap akan memilih calon tersebut. Hal tersebut terpapar jelas pada grafik survei diatas. Sikap politik yang menyatakan tetap memilih calon tersebut dipilih oleh 40,4% warga. Sedangkan yang bersikap untuk memilih calon yang didukung parpol ataupun tidak akan memilih sama sekali hanya berjumlah 7,5% dab 2,9% saja. Walaupun warga yang tidak tahu atau belum menjawab juga masih banyak (49,2%), akan tetapi hal tersebut telah menjustifikasi fakta pada saat ini bahwa figur pemimpin lebih kuat pengaruhnya daripada faktor lainnya.
Istilah deparpolisasi, pelemahan partai politik atau apapun namanya, seharusnya janganlah menjadi ancaman namun harus menjadi perhatian bagi parpol untuk mengevaluasi program dan kinerjanya selama ini. Sudah bukan menjadi rahasia lagi jika calon pemimpin daerah yang berpotensi besar yang sanggup membangun daerahnya dan disukai oleh masyarakatnya gagal ikut pilkada karena ketiadaan dana untuk membeli kendaraan politik (parpol) guna persyaratan administrasi pencalonan dirinya. Memang fakta menyebutkan semenjak tahun 2004 saat pertamakali UU Otonomi daerah dikeluarkan sebagai cikal bakal pilkada di Indonesia, pasangan calon yang maju melalui jalur independen hanya sedikit yang memenangkan pilkada di masing-masing daerah pemilihannya. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan zaman, masyarakat dan calon pemimpin daerah sudah semakin pintar menyikapi fenomena jalur independen ini. Kini di tahun 2016 lewat Ahok dan Teman Ahok, mereka mencoba untuk merubah stigma citra negatif calon independen yang merupakan calon abal-abal, asal jadi, calon boneka, dsb menjadi calon yang bercitra positif yang berpotensi besar memenangkan pilkada di daerahnya. Yang dilakukan oleh Nasdem, Hanura dan mungkin ada beberapa parpol lainnya untuk mendukung pencalonan Ahok adalah suatu hal yang wajar saja terjadi. Apresiasi positif sepatutnya disematkan kepada beberapa parpol-parpol tersebut karena dengan gagahnya mengabaikan ego politis untuk mendukung calon walaupun berasal dari jalur non parpol. Semoga hal ini dapat menjadi preseden yang baik bagi perkembangan demokrasi di Indonesia.
  

         

Prabowo Unggul, Elektabilitas Jokowi Turun

Pendiri partai Gerindra Prabowo Subianto, unggul dalam tingkat elektabilitas dibandingkan dengan Jokowi Presiden RI saat ini. Prabowo didukung oleh 22,6% warga, sedangkan Jokowi hanya dipilih oleh 14,4%. Berturut-turut selanjutnya ialah tokoh partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (11,9%). Aburizal Bakrie (5,4%) dan Jusuf Kalla (1,7%) melengkapi lima besar tokoh nasional yang memiliki peluang menjadi Presiden pada saat ini.
Hal tersebut terungkap pada hasil Survei Perilaku Pemilih warga Kota Pekanbaru pada periode bulan Maret 2016. Warga memilih beberapa tokoh nasional yang dianggap paling pantas menjadi Presiden jika seandainya Pilpres dilaksanakan pada hari ini. Survei Preferensi Pemilih ini dilaksanakan oleh lembaga riset dan survei nasional LAMDA Indonesia (Lembaga Aspirasi Masyarakat Daerah Indonesia). Metode yang digunakan pada kegiatan survei ini adalah Metode Jenjang Acak Bertingkat dimana sampel responden dipilih secara acak berdasarkan proporsional jumlah pemilih di setiap wilayah. Target responden survei ini adalah penduduk Kota Pekanbaru yang telah memiliki hak pilih sebanyak kurang lebih 600 orang yang diwawancarai secara langsung face to face mengenai perilaku dan sikap politiknya. Survei perilaku politik ini memiliki Margin of Error sebesar 4% dengan tingkat kepercayaan 96%.
Berikut adalah hasil lengkap yang disajikan dengan grafik, hasil survei preferensi pemilih warga Kota Pekanbaru mengenai pilihan presidennya pada saat ini.


Terlihat pada grafik hasil survei diatas, Posisi Prabowo paling tinggi tingkat elektabilitasnya dibandingkan para tokoh lainnya. Yang menarik ialah, mantan Presiden RI periode sebelumnya yaitu Susilo Bambang Yudhoyono atau akrab disebut SBY, masih memiliki elektabilitas yang cukup tinggi dan menempatkannya di urutan tiga besar tokoh nasional yang memiliki tingkat keterpilihan di Kota Pekanbaru. Hal menarik lainnya adalah tokoh sentral PDIP Megawati Sukarno Putri hanya memiliki tingkat elektabilitas sebesar 1,5% saja. Walaupun hanya berlaku di lingkup Kota Pekanbaru saja, namun setidaknya gambaran perilaku pemilih ini menjadi gambaran umum perilaku politik pemilih di kota besar. Preferensi pemilih mayoritas warga Pekanbaru terhadap tokoh nasional untuk menjadi calon Presidennya di masa yang akan datang masih berharap pada tokoh-tokoh senior. Peluang tokoh-tokoh muda potensial untuk maju masih kecil. Akan tetapi seiring pelaksanaan pilpres yang masih lumayan lama, diharapkan muncul tokoh-tokoh muda yang diharapkan mampu membawa perubahan terhadap negeri ini ke arah yang lebih baik.

Tingkat Popularitas Calon Bupati Pangandaran


Berikut adalah hasil survei pilkada di kabupaten Pangandaran yang akan melaksanakan Pilkada serentak pada akhir tahun 2015 ini. Survei pilkada ini memakai metode multistage random sampling yang menggunakan sebanyak 750 responden yang tersebar secara proporsional di wilayah kabupaten Pangandaran provinsi Jawa Barat. Periode survei pilkada ini dilaksanakan pada bulan September 2015 lalu.
Laporan hasil survei pilkada kali ini mengenai tingkat popularitas masing-masing kandidat (individu) yang akan bertarung pada pilkada nanti. Adapun tabel tingkat popularitasnya sebagai berikut :


Dari tabel diatas, terlihat jelas bahwa dari perbandingan pada survei pertama yang diadakan pada bulan Mei lalu terhadap survei berikutnya tiga bulan kemudian, terjadi kenaikan tingkat popularitas yang signifikan pada setiap kandidat. Kenaikan ini selain dipicu oleh kemungkinan gencarnya sosialisasi dari masing-masing tim, kemungkinan juga terjadi karena sudah mengerucutnya pasangan calon yang resmi mendaftar ke KPUD setempat.
Akan tetapi hal ini tidak terjadi pada tingkat akseptabilitas atau kesukaan kepada beberapa kandidat. Hal ini biasa terjadi karena adanya kenaikan tingkat popularitas yang belum dibarengi oleh kesukaan responden kepada beberapa kandidat tersebut.


Pada indeks tingkat popularitas untuk calon Bupati, Jeje masih mendominasi dengan persentase sebesar 94.6% dari responden yang mengenalnya. Faktor Petahana di yakini menjadi alasan kuat bagi Jeje lebih superior  dibanding calon lainnya. Kemudian tingkat popularitas tertinggi calon Wakil Bupati, juga di raih oleh pasangan Jeje yaitu Adang Hadari Sandaan (81.0%). Sedangkan (Cucu) Sulaksana pada saat ini baru dikenal oleh 45.5% responden saja.

Hasil Survei Pilkada Pangkep : "Elektabilitas Kandidat"

Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) di Sulawesi Selatan akan melaksanakan pilkada serentak pada tanggal 9 Desember nanti. Sebanyak 4 pasangan calon akan bertarung memperebutkan kursi nomor satu di wilayah ini. Ketiga pasangan tersebut adalah Abdul Rahman Assegaf – Kamarussamad (HarapanKu), Syamsuddin A Hamid-Syahban Sammana (Sahabat), Nur Achmad-Hafsul W Hafatta dan pasangan Sangkala Taepe-Andi Muh Ali Gaffar Patappe.
Survei pilkada ini dilaksanakan oleh LSIT yang dimulai pada tanggal 3 Agustus hingga 3 September 2015 dengan margin error kurang lebih 3 persen. Metodelogi survei mengunakan metode acak (multi stage random sampling) dengan jumlah responden 600 responden yang tersebar 13 kecamatan yang ada di Pangkep.
Hasilnya, elektabilitas pasangan Abd Rahman Assegaf-Kamrussamad (HarapanKu) dinyatakan unggul sebanyak 32, 21 persen. Lalu disusul pasangan Syamsuddin A Hamid-Syahban Sammana (Sahabat) sebesar 28,68 persen. Sementara elektabilitas pasangan Sangkala Taepe-Andi Muh Ali Gaffar Patappe sebesar 10,53 persen dan pasangan Nur Achmad-Hafsul W Hafatta cuma 1,22 persen.

Sementara pemilih yang tidak menjawab dan tidak tahu masih sangat besar yakni 27,36 persen. Dari hasil survei pilkada ini, setidaknya para pasangan calon yang menjadi kandidat pilkada Pangkep 2015 mengetahui posisinya masing-masing hingga saat ini (periode survei). Masih lamanya waktu pencoblosan dan juga masih tingginya prosentase pemilih yang belum menentukan pilihannya, menjadi faktor yang harus diperhatikan oleh masing-masing tim sukses kandidat untuk menerapkan strategi yang efektif untuk meraih dukungan suara maksimal pada tanggal 9 Desember nanti. 


Peluang Menang Kandidat Pilkada Kabupaten Pangandaran

Menarik untuk menyimak pertarungan para kandidat kontestasi pemilihan kepala daerah kabupaten Pangandaran pada saat ini. Seperti kita ketahui bersama, bahwa kabupaten Pangandaran adalah salah satu daerah yang akan mengikuti rangkaian pilkada yang akan dilaksanakan secara serentak pada bulan Desember tahun 2015 nanti. Ada tiga pasang kandidat calon Bupati dan Wakil Bupati yang secara resmi akan maju pada pilkada nanti. Tiga pasangan calon kepala daerah yang akan ikut dalam Pilkada perdana di kabupaten Pangandaran adalah pasangan Jeje Wiradinata dan Adang Hadari. Keduanya diusung oleh PDI Perjuangan, Golkar, PKS dan Demokrat. Pasangan Kedua adalah Azizah Talita Dewi dan Sulaksana, yang diusung oleh PKB, Nasdem dan Gerindra. Terakhir adalah pasangan Ino Darsono dan Erwin M Thamrin yang diusung oleh PAN.
Pasangan Jeje - Adang (JIHAD) adalah pasangan yang paling difavoritkan mengungguli pasangan calon lainnya. Faktor utama yang paling berperan dalam hal tersebut adalah karena Jeje Wiradinata adalah seorang Petahana (incumbent) yang masih menjabat sebagai Wakil Bupati Ciamis (daerah induk Pangandaran sebelum dimekarkan). Keuntungan tersebut jika mampu dimanfaatkan secara maksimal oleh tim suksesi pemenangan Jihad, maka akan berbuah kemenangan. Menurut data statistik dari survei pra pilkada yang telah dilakukan oleh LAMDA Indonesia dari tahun 2005 lalu, sebanyak 88,7% kandidat incumbent yang ikut pilkada,  78,3 diantaranya berhasil memenangkan pilkada, sedangkan sisanya tidak sukses.
Pasangan calon lainnya yaitu pasangan AHLAK (Azizah - Sulaksana). Azizah Talitha Dewi adalah satu-satunya calon Bupati wanita yang ikut meramaikan pilkada kabupaten Pangandaran. Issu gender di yakini akan mampu membuat pasangan ini menjadi kuda hitam yang akan mengacak-acak perolehan suara para kandidat lainnya. Salah satu bukti bahwa issu gender akan memainkan fungsinya sebagai kuda hitam terlihat pada hasil survei pilkada Lamda Indonesia pada beberapa waktu lalu, berikut grafiknya :



Terlihat pada grafik data hasil survei Pangandaran yang termuat diatas, bahwa alasan memilih calon Bupati yang berasal dari perempuan dipilih sebanyak 3.4% responden. Hal tersebut cukup mampu memberikan sumbangan dukungan yang cukup signifikan kepada kandidat.
Pasangan calon yang terakhir adalah pasangan HIDMAT (Ino Darsono - Erwin). Pasangan ini juga masih berpeluang menang untuk merebut kursi nomor satu di Pangandaran. Alasan utama yang mendasari hal tersebut adalah karena partai pendukungnya PAN, memiliki konstituen yang lumayan banyak dan merata di kabupaten Pangandaran. PAN pada pemilu legislatif 2014 lalu berada di posisi 2 perolehan suara terbanyak di kabupaten Pangandaran. Fakta lainnya adalah sebanyak 5,2% responden survei meyakini bahwa alasan mereka memilih calon bupati adalah karena partai pendukungnya.
Dari analisa masing-masing kandidat pasangan calon yang akan bertarung pada pilkada kabupaten Pangandaran nanti, ketiganya masih sama-sama memiliki peluang untuk merebut dukungan terbanyak untuk merebut kursi nomor satu. Akan tetapi dilihat dari segi teknis, peluang Jihad masih lebih unggul dari kandidat lainnya. Masih ada waktu bagi tim sukses yang mendukung masing-masing jagoannya untuk berupaya semaksimal mungkin merebut simpati pemilih, tentunya dengan strategi dan program pemenangan yang tepat.       




  

Hasil Survei Pilkada Bengkulu : Sifat Calon Gubernur Favorit Pemilih

Beberapa perilaku politik pemilih masyarakat provinsi Bengkulu yang akan melaksanakan pilkada untuk memilih gubernur pada akhir tahun nanti dapat dilihat pada hasil survei pilkada di provinsi Bengkulu ini. Salah satu perilaku politik pemilih yang terekam dalam survei pilkada ini adalah mengenai sifat calon Gubernur yang disukai oleh voter (pemilih). 
Salah satu strategi yang sering dipakai oleh konsultan tim sukses untuk dapat meraih suara maksimal pada kliennya adalah dengan cara mempengaruhi pilihan dengan pendekatan psikologis. Pemilih atau voter yang akan memilih adalah manusia biasa yang suka/senang kepada seseorang karena faktor sifat. Pengaruh dari faktor ini sangat besar terhadap seorang pemilih yang kelak akan menggunakan hak pilihnya untuk memilih calon pemimpinnya di masa yang akan datang. Dapat dibayangkan jika seseorang memiliki sifat antagonis seperti sombong, jarang bergaul dan suka korupsi, dipastikan ia akan dibenci oleh orang lain. Dengan memahami logika psikologis yang sederhana ini, diharapkan seorang kandidat dapat meraih dukungan maksimal berdasarkan perilaku maupun sifat yang sesuai dengan keinginan pemilih.  


Grafik dari hasil survei pilkada diatas adalah gambaran umum mengenai tingkat kesukaan pemilih terhadap sifat dan perilaku calon gubernur yang mereka pilih nantinya. Survei pilkada ini mewawancarai sejumlah responden yang sampelnya didapat dari metode multistage random sampling. Sampel responden dari survei pilkada ini diambil dari setiap kabupaten/kota secara proporsional dengan kriteria tertentu.

Hasil Survei : "Alasan Warga Pangandaran Untuk Memilih"

Pada suatu pemilihan kepala daerah atau pilkada yang bersifat langsung, sering diukur mengenai alasan apa yang menyebabkan seorang voter atau pemilih akan mencoblos kandidat kepala daerahnya. Di kabupaten Pangandaran yang akan melaksanakan pilkada serentak pada awal Desember nanti, hal tersebut juga di ukur melalui survei perilaku pemilih yang mewawancarai langsung responden terpilih.
Survei pilkada ini dilakukan pada bulan Mei sampai dengan Agustus 2015 lalu. Metode yang digunakan pada survei pilkada ini memakai metode multistage random sampling atau metode jenjang acak bertingkat untuk menentukan sampel respondennya. Jumlah responden survei pilkada ini yang terpilih adalah sebanyak 650 orang, dengan margin of error (MoE) sebesar +/- 3% dan tingkat kepercayaan 97%. Pengambilan data dari responden dengan cara wawancara langsung dengan responden melalui panduan kuesioner.
Alasan utama responden yang mewakili persepsi warga Pangandaran untuk memilih pemimpinnya nanti berturut-turut adalah sebagai berikut : Jujur (48.9%), Perhatian/dekat dengan rakyat (21.9%), Mampu memecahkan masalah (10.9%), Taat beragama (5.9%),  Berwibawa (4.6%) dan  lainnya, untuk selengkapnya lihat pada grafik dibawah ini.

Memiliki kejujuran dan dekat dengan rakyat adalah alasan utama masyarakat Pangandaran dalam menentukan pilihan terhadap kandidat yang akan bertarung pada pilkada nanti. Kandidat yang merasa dan dirasakan masyarakat pemilih memiliki kedua sifat ini akan dengan mudah merebut simpati guna meraih hasil maksimal pada perhelatan pilkada kabupaten Pangandaran 2015.  

Hasil Survei Pangandaran Agustus 2015

Pengetahuan masyarakat kabupaten Pangandaran mengenai akan dilaksanakannya pilkada pada akhir tahun 2015 nanti sangat baik. Dari 750 responden yang mewakili masyarakat kabupaten Pangandaran, 99.5% mengetahui hal tersebut dan hanya 0.5% responden saja yang tidak mengetahui. Berikut grafik tingkat awareness masyarakat Pangandaran.
Survei ini menggunakan metode pengambilan sampel multi stage random sampling, teknik pengumpulan pendapat dilakukan secara wawancara tatap muka dengan 750 responden yang tersebar secara proporsional di seluruh wilayah kabupaten Pangandaran. Dengan margin of error +/- 5%, hasil survei ini dapat mewakili gambaran umum mengenai perilaku dan persepsi politik masyarakat kabupaten Pangandaran menghadapi pilkada serentak tahun 2015.


Sedangkan  tingkat partisipasi untuk memilih atau mencoblos masyarakat Pangandaran sangatlah besar. Ini ditunjukkan oleh responden yang akan memilih pada pilkada nanti sebanyak 99.3%. Masyarakat yang belum pasti mencoblos hanya sebanyak 0.6% saja.
Alasan terbesar masyarakat yang belum pasti mencoblos adalah merasa mencoblos pada pilkada nanti tidak penting (65.7%), disusul malas ((21.5%), dan masih bingung (12.8%).



Baca hasil survei Pangandaran berikutnya :
- Dasar Pilihan Warga Pangandaran Untuk Memilih
- Tingkat Popularitas Calon Bupati
- Sumber Informasi Pilkada
- Toleransi Terhadap Money Politics










Hasil Survei Pilgub Bengkulu

Survei pilkada di provinsi Bengkulu ini dilaksanakan pada periode bulan April sampai dengan Juli 2015. Pada saat tersebut kondisi dan situasi politik di wilayah Bengkulu sangat dinamis. Para calon kandidat yang ingin maju sebagai kontestan pemilihan gubernur Bengkulu 2015 sangat banyak, yang kebanyakan berasal dari para kepala daerah dan tokoh-tokoh politik di provinsi Bengkulu. 
Survei pilkada ini memakai metode multi stage random sampling yang mengampil sampel untuk respondennya sebanyak 1000 orang warga Bengkulu. Responden tersebut memiliki kriteria antara lain, memiliki KTP asli penduduk Bengkulu dan berusia diatas 17 tahun. Survei pilkada ini memiliki margin of error +/- 3% dengan tingkat kepercayaan 97%.  
Berikut adalah hasil survei pilkada pemilihan Gubernur Bengkulu 2015 :





Untuk hasil lain survei pilkada pilgub Bengkulu, silahkan buka link dibawah ini :
- Sifat calon Gubernur yang diinginkan warga Bengkulu
- Loyalitas dukungan dari konstituen partai politik
- Konsistensi voter terhadap pilihannya




Hasil Survei Kabupaten Pangandaran : Sosialisasi Pilkada


Pengetahuan masyarakat kabupaten Pangandaran tentang akan adanya pelaksanaan pilkada di daerahnya sangat baik. Hal ini terlihat pada pernyataan 90.9% responden yang mewakili masyarakat pemilih mengetahui bahwa akan diselenggarakannya pemilihan Bupati dan Wakil Bupati yang akan dihelat pada akhir tahun nanti. Responden yang tidak mengetahui akan hal tersebut hanya berkisar di angka 9,1% saja.
Grafik diatas tersebut merupakan hasil dari Survei Perilaku dan Pemetaan Politik yang dilaksanakan di kabupaten Pangandaran provinsi Jawa Barat. Survei ini dilakukan dengan metode multistage random sampling dan mewawancarai responden yang berjumlah 600 orang. Waktu dilaksanakannya survei pilkada ini pada periode bulan April sampai dengan Mei tahun 2015.
Seperti sudah diketahui bersama bahwa kabupaten Pangandaran akan melaksanakan pemilihan kepala daerah secara serentak pada akhir tahun 2015 nanti. Pilkada serentak ini juga merupakan pemilihan langsung pertama kabupaten ini setelah menjadi DOB atau Daerah Otonomi Baru setelah dimekarkan dari kabupaten Ciamis pada tahun 2012 lalu.